Kantor Berita Online Maluku

Rabu, 03 Desember 2008
Home arrow Lintas Pulau arrow Ramadhan Di Tanah Pengasingan Bung Hatta
Ramadhan Di Tanah Pengasingan Bung Hatta Cetak E-mail
Minggu, 21 September 2008

Ada “pesta”  piknik “serbu” Pantai Malole, Pulau Karaka dan Pulau Pisang—lokasi wisata--Ada musikus jalanan roda antar kampong bangunkan warga sahur,  juga buka puasa bersama  menjadi tradisi rutinitas  umat Muslim  menyambut bulan suci Ramadan  dan  di tanah pengasingan Bung Hatta itu.  Seperti apa rutinitas itu berjalan?

Sehari sebelum datang  Bulan Suci Ramdhan  bak “pesta” besar umat Muslim. Lokasi-lokasi wisata “diserbu”  warga.  Dari ujung pantai  Malole hingga pulau-pulau wisata lainnya, jadi arena baku dapa warga.  “Pesta” piknik warga  saban menyambut Ramadhan sudah menjadi budaya turun temurun.  Pelbagai perbekalan  telah disiapkan sejak malam.

Ketupat, buras, nasi kuning, ikan asar, ikan bakar, ayam dan tak lupa juga saot dan ubi kayu rabus, merupakan menu yang telah disiapkan untuk piknik Ramadhan itu.  Tak heran jika sore hingga malam dapur-dapur  berasap  dan menghembuskan  aroma  mak nyos!! “Besok katrong makan sadap di Malole,” celutuk Irfan salah seorang warga Kampung Baru.    

Keesokan harinya, kampong-kampung sunyi senyap.  Warga lebih banyak pilih menghabiskan waktu untuk bertamasyah di lokasi-lokasi wisata ketimbang di rumah.  Paling yang bisa dijumpai  hanya satu dua orang yang bertugas menjaga kampung. Itu pun warga yang telah lajut usia.  Apalagi anak remaja….tak satupun terlihat menjaga kampung.

“Pesta” pantai menjelang Ramdhan cukup meriah. Ada acara mandi bareng, kadayo, nyanyi bareng  juga pasang-pasangan romantis  yang tak biarkan waktu  itu berlalu. Meski ngendap-ngendap dibalik-balik pohon, yang penting bisa melepaskan rindu. Pokoknya  seru deh!! 

Terlepas dari itu, ada budaya ziarah ke makam. Sore sehari sebelum Ramdhan lokasi taman makam umum (TPU), juga dijubeli warga. Budaya ini tak hanya berlaku di Banda. Kendati berlaku umum bagi umat Muslim dimanapun berada.

Tak kalah menariknya, ketika malam tiba. Mulai pukul 02.00, dinihari warga di saantero kampung tak lagi bisa memejam mata. Pasalnya, alunan irama-irama sahur mulai membahana disana-sini dari sudut-sudut kampung.  Bahkan, yang lebih menarik lagi, ada syair-syair  pantun  yang dilantunkan bersahut-sahutan laksana berada diatas panggung teather.

 “Orang puasa harus berjaga

Dalam bicara maupun kata

Sepotong Daging yang bernama lida

Gampang celaka dengan tiba-tiba”

Suara-suara merdu yang melantunkan syair-syair itu, terdengar merobek-robek hati dan menyadarkan kita untuk lebih memahami pentingnya berpuasa.  Bahkan, suasana di tanah pembuangan Bung Hatta, lebih terasa himkahnya dibanding berada di daerah-daerah rantau. Oleh sebab itu, orang Banda umumnya lebih cendrung pulang kampung menunaikan ibadah puasa di kampung ketimbang bertahan dii tanah rantau.

Belum lagi sewaktu buka puasa.  Pelbagai macam adonan kue terhampar di setiap meja rumah-rumah warga, mulai dari kue ringan hingga kolak dari pelbagai jenis.  Selain itu, ada juga buka puasa bersama yang saban tahun digagas ibu-ibu  yang tergabung dalam majelis taklim, suasana pun dibuat mirip “pesta” ritual, yang kemudian diikuti salat tarawe berjamah.

Tadarus  di mesjid-mesjid  berlangsung mulai usai salat tarawe hingga  datang waktunya sahur baru terdengar sepi, alunan ayat-ayat Al-quran dari alat pengeras suara yang dipasang. Sampai-sampai ada warga yang tidak ingin melepas suasana malam  di kalah Ramadhan berlalu begitu saja.  (ongkie anakoda)

 

 

 
< Sebelumnya   Berikutnya >