Kantor Berita Online Maluku

Jumat, 09 Januari 2009
Home arrow Laporan Khusus arrow MugabeTidak Akan Mundur
MugabeTidak Akan Mundur Cetak E-mail
Sabtu, 21 Juni 2008
ImagePresiden Zimbabwe Robert Mugabe menuduh pihak oposisi berbohong mengenai tindak kekerasan di negara itu untuk menimbulkan keraguan mengenai pemilu. Pihak oposisi mengatakan sedikitnya 70 pendukung mereka tewas dan banyak lainnnya dipukuli menjelang pemilihan presiden tahap kedua.

Dia juga mengatakan pihak oposisi MDC tidak akan pernah diijinkan untuk memerintah negeri itu dan "hanya Tuhan" yang bisa memberhentikannya. MDC akan memutuskan hari Senin apakah akan ikut pemilihan atau tidak.

Wartawan BBC Peter Biles di Johannesburg mengatakan Presiden Mugabe kembali menyampaikan indikasi bahwa dia tidak akan mau menyerahkan kekuasaan, kalau dia kalah dalam pemilihan presiden.

"Kami tidak akan pernah mengijinkan peristiwa seperti pemilu untuk membalikkan kemerdekaan, kedaulatan kami." kata Mugabe di depan para pendukungnya di kota Bulawayo hari Jumat.

"Hanya Tuhan yang mengangkat saya yang bisa menghentikan saya - bukan MDC- bukan Inggris." tambah Mugabe.

Mugabe mengulangi tuduhannya bahwa Gerakan bagi Perubahan Demokratis (MDC) bertindak atas kepentingan Inggris, negara bekas penjajah, dan negara-negara Barat lainnya.

Setelah itu, dia dikutip oleh koran pemerintah The Herald, yang mengatakan MDC sudah mengumpulkan daftar nama mereka yang dikatakan menjadi korban kekerasan politik.

"Mereka melakukan hal tersebut sehingga kemudian akan mengatakan pemilihan berlangsung tidak adil dan bebas. Ini semua bohong belaka." kata Mugabe.

Intimidasi

Kepala polisi Zimbabwe, Augustine Chihuri, sudah menyatakan bahwa MDC adalah pangkal tindak kekerasan sekarang ini.

"Semua kekuatan yang diperlukan akan digunakan untuk menindak pelaku kekerasan.

"Kekerasan ini dimaksudkan untuk mencegah warga memberikan suara."

Menurut sumber partai kepada BBC, MDC akan mengumumkan hari Senin apakah mereka akan mengikuti pemilihan presiden tahap kedua 27 Juni.

Pemimpin MDC Morgan Tsvangirai - yang akan menghadapi Robert Mugabe - dilaporkan mendapatkan tekanan semakin kuat untuk menarik diri karena meningkatnya tindak kekerasan.

Rekaman yang muncul hari Jumat, yang diambil oleh staf kedutaan Amerika di Harare, menunjukkan milisi dukungan pemerintah menggunakan tongkat mengejar para pendukung MDC di sekitar ibukota.

Negara-negara tetangga Zimbabwe juga mulai menyampaikan keprihatinan mereka mengenai keabsahan pemilihan tahap kedua tersebut.

Hari Jumat, Presiden Angola Jose Eduardo Dos Santos, salah satu sekutu terdekat Mugabe, menyerukannya untuk menghentikan tindak kekerasan.

Menteri Luar Negeri Tanzania Bernard Membe, kepala badan pemantau pemilu sebelumnya mengatakan kepada BBC bahwa kekerasan tampaknya "meningkat di seluruh Zimbabwe".

 
< Sebelumnya   Berikutnya >