Kantor Berita Online Maluku

Kamis, 08 Januari 2009
Home arrow Laporan Khusus arrow Pemantau Peringatkan Zimbabwe
Pemantau Peringatkan Zimbabwe Cetak E-mail
Rabu, 18 Juni 2008
ImageKepala misi pemantau parlemen Afrika di Zimbabwe memperingatkan dia tidak akan mensahkan pemilihan babak kedua digelar pekan depan jika aksi kekerasan masih terjadi. Marwick Khumalo mengatakan kepada BBC bahwa timnya menerima berbagai laporan mengenaskan tentang serangan dan keadaan politik di negara itu tidak cocok untuk melakukan pemilihan bebas.

Sementara itu, Perdana Menteri Kenya Raila Odinga mendesak Presiden Robert Mugabe untuk mengundurkan diri.Odinga mengatakan pemungutan suara sudah dicurangi.

Mugabe menggelar kampanye dengan gigih untuk memperpanjang masa pemerintahannya yang sudah berjalan 28 tahun, setelah mendapat suara lebih sedikit dari pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai pada babak pertama pemilihan presiden pada bulan Maret.

Sementara itu, Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki akan berkunjung ke Zimbabwe pada hari Rabu untuk membahas pemilihan dengan Presiden Mugabe.

Mbeki mengepalai upaya kawasan untuk menjadi penengah krisis di Zimbabwe.
Masyakarat internasional semakin khawatir kekerasan politik di negara itu akan membuat pemilihan tidak bebas dan tidak adil.

Para pemimpin negara-negara Afrika pada umumnya enggan mengecam Mugabe, yang masih dilihat sebagai pahlawan perang melawan penjajahan namun ada tanda-tanda sikap itu mulai berubah.

Saling tuding

Kepala pemantau parlemen Afrika Marwick Khumalo mengatakan pemerintah Zimbabwe memiliki tanggung jawab untuk menghentikan kekerasan yang pecah setelah pemilihan putaran pertama.

"Sangat sulit bagi saya untuk menilai apakah kekerasan berkurang atau meningkat," katanya kepada BBC.

"Namun yang mengkhawatirkan adalah dalam suasana pemilihan seperti sekarang ini kekerasan adalah satu hal yang anda tidak ingin lihat, karena hal itu akan merusak pemilihan."

Oposisi pimpinan Tsvangirai, Gerakan bagi Perubahan Demokratik mengatakan mereka kini terpaska melakukan kampanye pemilihan secara rahasia.

MDC mengatakan setidaknya 66 pendukung mereka terbunuh dan sekitar 25.000 lainnya terusir dari rumah-rumah mereka.

Namun juru bicara partai pemerintah Zanu-PF, Patrick Chinamasa menuding MDC bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi.

"Kenyataannya yang terjadi adalah kekerasan dilakukan oleh MDC terhadap anggota-anggota Zanu-PF," kata Chinamasa kepada BBC.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >