Kantor Berita Online Maluku

Kamis, 08 Januari 2009
Home arrow Artikel Pilihan arrow Krisis ekonomi mulai terasa di pedalaman Maluku
Krisis ekonomi mulai terasa di pedalaman Maluku Cetak E-mail
Minggu, 09 Maret 2008
Harga sembako di Ambon naik 10 persen, dengan menghitung biaya transportasi, kenaikan itu berlipat 20 persen hingga 25 persen bila dijual lagi di Seram Bagian Timur. Apakah ini bukan permulaan krisis ekonomi?

AMBON – Kenaikan harga bahan makanan disertai bahan kebutuhan pokok lainnya di sejumlah kota besar di Indonesia, berdampak besar terhadap masyarakat pedalaman yang tinggal di desa – desa terpencil. Di Provinsi Maluku, krisis eonomi mulai terasa di desa – desa dengan melonjaknya harga sembako di ibukota. 

Kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako) hingga 10 persen di Kota Ambon misalnya, sangat berdampak pada penjualan sembako di Kabupaten Kepulauan Aru, Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Pantauan KBOMaluku di Ambon, Minggu (9/3), harga sembako naik 10 persen bagi pedagang di Kota Ambon tetapi bagi pedagang di kabupaten, harga itu bisa melonjak menembus 20 hingga 25 persen setelah dijual kembali di kabupaten – kabupaten  yang letak geografisnya jauh dari pusat perdagangan di Kota Ambon.

“Kami sampai kasihan melihat para pedagang dari SBT. Datang belanja dengan uang dua hingga tiga jutaan, hanya bawa pulang beras empat karung, sedikit gula, mie instant dan barang – barang seadanya,” ungkap Imran Kabalmay, pedagang antara asal Seram Timur.

Mereka juga harus menghitung ongkos transportasi dari dan ke Seram Bagian Timur. "Lalu kalau sampai di sana, terpaksa kami harus menjual ke masyarakat dengan harga 20 hingga 25 persen dari harga yang kami terima di Ambon. Ini menunjukkan krisis ekonomi mulai terasa. Harga - harga melambung tinggi, tingkat kesejahteraan menurun dan pasti berpengaruh terhadap semua hal," ungkapnya.


 
< Sebelumnya   Berikutnya >
koran digital.gif





Kata Sandi hilang?