Fokus Nasional
60 Tahun Penindasan: Keraguan di Tengah Pesta Pora | 60 Tahun Penindasan: Keraguan di Tengah Pesta Pora |
|
|
| Senin, 09 Juni 2008 | |
|
Di tengah pesta pora atas 60 tahun pendudukan, tersimpan cerita murung warga “pilihan tuhan” yang agaknya tak terjelaskan dengan baik karena ditutupi oleh suka cita itu. Mereka bilang “Kita tak saling membicarakannya, tetapi kita menyadari betul kerisauan ini.
Inilah kisah warga Israel yang ternyata memendam kegelisahan atas kelangsungan nasib negaranya setelah 60 tahun ini berlalu. Mereka yang paham politik merayakan hari jadi itu dengan sedikit banyak perasaan psikologi terkepung. Saleh Al-Naami dalam mingguan al-Ahram melukiskan kemurungan itu secara sangat baik dari pikiran orang-orang Israel yang tergolong penting dan terlibat. Belakangan ini telah berkembang kepercayaan dari sejumlah besar intelektual Israel bahwa negara mereka akan rontok didorong oleh sejumlah kontradiksi dan kegagalan yang dilakukan dari dalam negara itu sendiri. Amnon Rubinstein, mantan menteri pendidikan dan kehakiman dan seorang intelektual Israel berpengaruh, baru saja membuat terpukul banyak orang. Omongan Rubinstein memang selalu didengar orang karenanya kata-katanya di situ seolah menyiram bensin atas bara yang makin menyala. Rubinstein bilang di sebuah wawancara radio Hebrew, “Negara ini (Israel) tak akan bertahan.” Dan ucapan Rubinstein ini akan terdengar sebagai ramalan yang sangat menakutkan sekali untuk menyambut 60 tahun yang mestinya penuh riuh gembira. Jika kita mengamati perkembangan politik Israel, kita bisa tahu ada gelombang besar pesimisme kaum intelektual yang kira-kira senada dengan kesimpulan Rubinstein. Bahkan sejumlah politisi dan Zionis di sana terang-terangan menyatakan pendapat bahwa negara mereka sedang meniti langkah menuju terlupakan. Semakin mengerasnya kemurungan itu membuat tajuk media Israel menjuluki hal itu dengan kalimat “vision of the end of time”. Hal ini makin menjadi-jadi karena ketidakpercayaan besar warga atas kepemimpinan yang ada di Israel saat ini. Betapapun tampaknya pemimpin di sana berusaha keras mengirimkan terus pesan-pesan atas peluang dan keberhasilan. Ketidakpercayaan ini semakin mengkristal karena orang-orang seperti Rubinstein—yang pernah berada di dalam lingkaran elite, menyebarkan pesan-pesan yang sebaliknya dari pemimpin Israel. Sedikitnya ada tiga alasan mengapa pesismisme itu beralasan bagi penganutnya. Pertama, mereka merasakan semakin nyatanya ancaman dari luar. Kedua, semakin kurangnya keyakinan akan masa depan Israel, ketiga, telah terjadi sejumlah kubu mengkubu yang sangat berbahaya di dalam komponen masyarakat di sana. Cita-cita Perdana Menteri pertama Israel Ben Gurion tentang komunitas “Melting Pot” yang cair dan berbaur atas dasar Yahudiisme mengalami tantangan hebat sekarang ini oleh segragasi etnis, asal dan hubungan agama. Ketegangan serius antara Easterners dan Westerners Yahudi terasa berkembang makin tajam. Biang keladi yang paling mendasar atas semua pesimisme bisa kita temukan terkatakan dengan baik dan tanpa malu-malu oleh Nahom Burnei. Komentator senior untuk Yediot Aharonot (koran terkuat di Israel) mengatakan ketidakpercayaan itu dipuncaki oleh kekalahan perang kedua Israel di Libanon oleh milisi Hizbullah. Sejak kekalahan itu warga Israel dan Zionis sedunia terkesiap oleh kenyataan yang tak pernah terbayangkan oleh mereka. Bahwa meskipun negara mereka memiliki kestabilan secara ekonomi, harga perumahan yang terus terus naik, militer yang kuat dan universitas-universitas dengan mutu tinggi, tetapi itu tidak mencegah mereka dari kekalahan. Semua kehebatan itu, menurut Burnei telah mengecoh semua orang Israel kepada kefanatikan yang ternyata bersumber dari sesuatu yang rapuh. Legenda tentang tentara yang tak terkalahkan telah menguap menjadi mitos belaka. Kini kenyataan yang berlaku telah mengatakan kepada warga Israel bahwa Si Legenda itu tak mampu menyediakan keamanan untuk kehidupan Yahudi di sana dan gagal memberikan rasa hidup yang alami di sana. Kealamian hidup yang dimaui Burnei ditolaknya sendiri dengan mengatakan “Israel is the only state in the world whose mere existence is a source of doubt.” Gejala keresahan ini makin terlihat dramatis saat tokoh-tokoh seperti Abraham Tayrosh, Rovi Rivlin atau tulisan para Yahudi diaspora di Haaretz mewartakan banyaknya warga Israel yang lebih senang menggunakan paspor Eropa dan berdiaspora keluar ketimbang pulang ke tanah yang diperjanjikan. Mereka umumnya sudah tidak percaya dengan keselamatan hidup yang dijanjikan di Israel. Di tengah pesta dan kembang api yang meluncur tinggi menyambut 60 tahun kejayaan yang dibangun di atas kebengisan itu, Burnei menyimpan kegundahan saat menulis “The Palestinian national movement is much younger than Zionism, and yet, despite this, no one in the world doubts the right of the Palestinians to a state. Meanwhile, the right of the Jews to a state is a source of doubt, and not only among Arabs and Muslims.” Nampaknya setelah 60 tahun berlalu dan segala daya upaya dikerahkan untuk membenarkan keberadaan mereka di sana, jalan frustasi dan kelelahan itu tak jua dapat mereka hindarkan. Pesta ini memancarkan keraguan akan masa depan yang bisa berbuntut panjang. Wallahualam. Penulis: Zulfan Lindan / Pemred Majalah Adil
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
| Penegakan Hukum Ala Polres Ambon Di tengah Markas Besar (Mabes) Polri, berkampanye menyangkut pentingnya pelayanan masyarakat yang harus dilakukan “korps baju coklat” ini, berikut pemberantasan premanisme yang meresahkan warga dipelbagai... selengkapnya... |
| Pria Amerika hamil lagi selengkapnya... |
