Kantor Berita Online Maluku

Selasa, 07 Oktober 2008
Home arrow Artikel Pilihan arrow Penguasa dan Pengusaha
Penguasa dan Pengusaha Cetak E-mail
Kamis, 15 Mei 2008
Penguasa itu satu hal, pengusaha itu hal lain. Keduanya terpisah. “Kerajaan” mereka berbeda. Penguasa duduk dipuncak birokrasi pemerintahan. Pengusaha “raja” dalam birokrasi swasta yang ia bangun,sendiri. Mungkin pula ia warisi dari leluhur

Dimana penguasa dan pengusaha bertemu ? Mungkin dalam kepentingan. Kenyataan sehari-hari di sekitar kita menunjukkan begitu. Biarpun dilihat dari fungsinya mereka seolah-olah berseberangan, seolah berjalan di arah yang berbeda, mereka sering mudah bertemu.

Pertemuan membuat mereka merasa saling iri hati. Penguasa iri kepada pengusaha karena sang pengusaha memiliki uang belimpah.

Apa artinya kekuasaan tanpa uang ? pikir penguasa. Lamunannya melayang jauh kemasa depan. Ia memandang masa depan anak-anaknya. Mereka tidak selesai sekolah. Dan tanpa sekolah, kerja jenis apa bakal mereka peroleh ? Menjadi penguasa seperti dirinya hampir mustahil.

Penguasa macam apa bila dimasa remaja sekarang mereka cuma satu hal: kebut-kebutan, foya-foya? Pusing penguasa memikirkan nasib keluarganya sendiri. Sebaliknya, ia melihat hidup pengusaha serba enak, serba jelas. Usahanya berjalan lancar. Anak-anak, yang gagal masuk FE UI, langsung dikirim ke Harvard Bussines School yang prestisius itu. Bila urusan usaha keluarga cukup ditangan satu anak, anak-anak yang lain bebas bekerja pada pihak lain. Disana mereka bisa menjadi manajer dengan gaji milyaran.
“Sompret pengusaha itu,”pikir penguasa. Ia terbakar oleh kecemburuan. Ia cuma tak tahu bahwa pengusaha pun didera ambisi besar buat menjadi penguasa.

“apa arti usaha besar tanpa kekuasaan di tangan? Kalau aku punya kekuasaan juga, usahaku bakal lestari. Rangsangan bisa ditepis, akumulasi modal mudah diperoleh. Jaminan keamanan tersedia 24 jam selama berkuasa. Menjadi penguasa jelas enak,” pikir pengusaha.
Begitulah kira-kira “dunia” dalam para penguasa dan pengusaha. Ambisi terus melambung. Masing-masingh melirik. Masing-masing melihat posisi pihak lain lebih enak.

Dan begitulah yang terjadi dalam Indonesia Orde Baru hingga Reformasi, modal Asing bebas masuk. Proses kapitalisasi di mulai. Ekonomi tampak semarak seperti padi menguning menjelang panen raya. Apalagi kekayaan yang tersimpan di dalam Bumi Pertiwi dieksplorasi. Dan hutan-huta di tebang buat pembangunan.

Penguasa mengatur apa yang perlu di bangun. Tambang apa, di mana yang perlu dikeduk. Dan hutan mana mesti dibabat. Penguasa leluasa berbuat. Adakalanya malah lepas dari kontol.

Pengusaha ? ia pun makmur. Ia gesit menampung limpahan ini dan itu. Ia gesit menyediakan keperluan ini dan itu buat kepentingan pembangunan. Dalam situasi seperti itu, penguasa makmur, pengusaha subur.

Jalin-menjalin antar kepentingan keduanya membuat persahabatn mereka makin kental. Begitu kental sampai mereka, yang pada dasarnya berbeda, menjadi kelihatan seolah-olah sama. Mereka seperti wajah saudara kembar. Orang pun sukar membedakan mana penguasa, mana pengusaha.

Soalnya jelas, sekarang penguasa juga menjadi pengusaha. Dan pelan-pelan tapi pasti ada juga pengusaha ditunjuk menjadi penguasa. Makin mapan proses kapitalisasi, akan lebih leluasa pula kelak adanya kesempatan pengusaha menjadi penguasa.

Fenomena ini merebak dimana-mana. Ia ibarat wabah yang menyebar sangat cepat. Mungkin ia malu-malu menyebar di Jakarta, kemudian ke daerah-daerah, mula-mula di tingkat atas. Lama-lama merebak ke bawah,kebawah, sampai tingkat kelurahan.

Pembaruan sempurna antara penguasa dan pengusaha bukan fenomena yang muncul seketika. Kemunculan prilaku macam ini perlu proses panjang. Karena itu banyak jenis perilaku yang baru bisa di jelaskan dengan memuaskan bila penjelasan itu mencakup kondisi psikologis dan struktur sosial dimasa lalu.

Kondisi itu pertama, Cuma sedikit pengusaha yang sejak dulu memang hidup dalam keluarga pengusaha. Ini artinya, pengusaha kita rata-rata pengusaha baru. Dan mereka itu re-inkarnasi dari penguasa atau,minimal,anak-anak penguasa.

Kedua , lindungan payung kekuasaan atas pengusaha kita besar. Pengusaha mengeruk untung besar berkat relasi dengan penguasa begitu dekat. Pengusaha, akibatnya, payah mandiri, payah mengembangkan jiwa, dan semangat, sebutlah “ etos” kewirausahaan.

Ketiga, kaitan fenomena sosial masa lalu dengan fenomena ekonomi sekarang jadi jelas. Dulu anak-anak pejabat gemar ngebut di jalan dan menerabas aturan-aturan lalu lintas. Ini pernah menjadi masalah sosial kita. Sekarang, setelah mereka besar, umumnya lalu menjadi pengusaha. Dan hobi ngebut itu tetap diteruskan dalam bisnis. Mereka menerabas siapa saja, melibas aturan apa saja. Bisnis bisa besar tetapi mungkin semu. Minimal kebesaran mereka belum teruji.

Keempat, kedekatakan penguasa dan pengusaha menyebabkan keterpengaruhan kedua belah pihak demikian nyata. Dalam situasi macam ini, kolusi mudah terjadi. Penguasa bilang mumpung lagi berkuasa, sebab kekuasaan takkan selamnya di tangan. Sedang pengusaha bilang,selagi kawan berkuasa, kukeduk untuk sebesar-besarnya. Siapa tahu tahun mendatang ia tak lagi berkuasa.
Kolusi memang baik dan menguntungkan menurut penguasa dan pengusaha yang terlibat. Tapi,perilaku itu bikin bangsa dan negara bangkrut. Maka,”kerajaan” mesti pisah jauh. Fungsi mereka ditegaskan kembali. Dan ambisi perlu dibatasi agar penguasa ya penguasa, dan pengusaha tetap pengusaha. Dengan begitu, tak lagi ada penguasa sekaligus menjadi pengusaha.(MS)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >