Laporan Khusus
Faisal Basri: Perkembangan Terakhir Migas | Faisal Basri: Perkembangan Terakhir Migas |
|
|
| Kamis, 01 Mei 2008 | |
|
Di awal tahun ini harga minyak mentah telah menyentuh 100 dollar AS per barrel. Adalah Stephen Leeb yang pernah meramalkan harga minyak mentah setinggi itu. Orang yang sama, pada tahun 2006, menulis buku berjudul The Coming Economic Collapse: How You Can Thrive When Oil Costs $200 a Barrel.
Sementara itu, data terbaru yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan per-migas-an kita kian tergopoh-gopoh. Neraca perdagangan (ekspor minus impor) minyak mentah kita selama Januari-November 2007 hapir mendekati nol, persisnya hanya surplus 56 juta dolaar AS. Saya memprakirakan untuk sepanjang tahun 2007 neraca perdagangan minyak mentah sudah defisit. Jika terbukti, maka untuk pertama kali dalam sejarah, kita menjadi pengimpor netto minyak mentah. Untuk produk minyak atau BBM, seperti telah bisa diduga, defisit semakin menggelembung. Jika pada tahun 2006 defisit BBM sebesar 8,2 miliar dollar AS, maka untuk Januari-November 2007 saja sudah mencapai 8,7 miliar dollar AS. Pada kurun waktu 11 bulan ini, ekspor tercatat 2,6 miliar dollar AS, sedangkan impor 10,4 miliar dollar AS. Secara keseluruhan (minyak mentah dan BBM) defisit Januari-November 2007 mencapai 8,7 miliar dollar AS. Kita masih tertolong oleh gas. Jika gas dimasukkan, maka selama Januari-November 2007 masih ada surplus sebanyak 74 juta dollar AS. Mengingat surplus migas cenderung menurun dengan relatif cepat (pada periode yang sama tahun lalu surplus masih 1,7 miliar dollar AS), maka tahun ini sangat boleh jadi kita telah memasuki era baru yang lebih menyedihkan: negara pengimpor migas netto, ceteris paribus. (Lihat data selengkapnya) Apa kita hanya diam saja, sementara pemerintah justru terus berakrobat. Misalnya, koran Kontan dan Investor Daily terbitan Kamis, 3 Januari 2008: Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro, minta minyak mentah yang dipakai untuk own use dalam rangka proses produksi oleh Chevron sebesar 50.000 barrel/hari supaya dimasukkan ke dalam hitungan lifting minyak. Seorang sumber di instansi pemerintah yang mengurus soal minyak berkomentar di koran tersebut: “Cara menghitung seperti itu sama juga dengan dagelan.”
Mengapa, ya, para pemimpin makin tak jujur. Kok, Presiden membiarkan para pembantunya seperti itu? (Faisal Basri) |
| < Sebelumnya |
|---|
| Penegakan Hukum Ala Polres Ambon Di tengah Markas Besar (Mabes) Polri, berkampanye menyangkut pentingnya pelayanan masyarakat yang harus dilakukan “korps baju coklat” ini, berikut pemberantasan premanisme yang meresahkan warga dipelbagai... selengkapnya... |
| Pria Amerika hamil lagi selengkapnya... |
