| Partai Politik Besar Makin Merosot |
|
|
| Sabtu, 26 April 2008 | |
Masa pilkada kali ini memang sedikit berbeda, jika sebelumnya calon-calon pemimpin yang diusung oleh partai politik besar biasanya lebih dipercaya dan berhasil memperoleh suara terbanyak dan terbesar di akhir pemungutan suara. Namun kali ini kelihatannya kepercayaan masyarakat sudah mulai bergeser yang mungkin disebabkan karena kinerja para pemimpin yang berasal dari parpol besar tidak memberikan keberhasilan yang diinginkan oleh rakyatnya.
Seperti yang saat ini banyak terjadi para calon pemimpin yang 'dijual' di pilkada kali ini, mulai dari calon incumbent sampai jenderal purnawirawan, tak banyak mendapatkan suara yang diinginkan dalam pemilihan kepala daerah. Tak heran jika mereka pun banyak yang menuai kekalahan dalam masa pilkada ini. Hal ini seperti yang terjadi dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat dan Sumatera Utara. Dalam penghitungan cepat, quick count, calon dari kubu PKS dan PAN, Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf meraih suara terbanyak dalam pilkada di Jawa Barat. Sedangkan pasangan Syamsul Arifin dan Gatot Pujonugroho yang diusung oleh PKS, PPP, PBR dan PBB meraih suara tertinggi di pilkada Sumatera Utara. Memang ada kecenderungan rakyat memilih pemimpin baru yang masih muda, orang baru dan menawarkan perubahan. Ini disebabkan karena adanya kejenuhan yang terjadi di pergolakan masyarakat yang jenuh dengan tokoh lama. Rakyat saat ini dianggap sudah bisa lebih kritis dalam memilih pemimpinnya, sehingga tokoh-tokoh yang seperti daur ulang, ambil saja contoh seperti Agum Gumelar yang ikut mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat gagal dalam memenangkan hasil pemungutan suara. Ini tentunya karena masyarakat menganggap Agum adalah salah satu tokoh hasil daur ulang saja. Perubahan yang diinginkan tentunya membuat mereka juga mengubah pilihan mereka. Apakah perubahan dalam masa pemerintahan seorang pemimpin tersebut benar melakukan perubahan yang cukup signifikan dalam hal perbaikan kesejahteraan atau kesehatan misalnya. Karena itu sudah seharusnya para parpol besar lebih berhati-hati dalam mengajukan calonnya, jangan hanya karena ia sudah pernah memimpin tetapi juga perlu dilihat kinerja dan hasil kepemimpinannya tersebut, apakah memberikan perubahan atau tidak, apakah ia menepati janji-janjinya saat belum terpilih atau tidak. Fenomena ini memang berbeda dengan pemilu legislatif, karena pemilihan legislatif, rakyat memilih partai politik, bukan orang perorangan secara langsung. Mungkin jika dilakukan hal yang sama bisa saja hal berbeda akan terjadi. Parpol Seperti Kurang Perduli Belum lagi ditambh dengan permasalahan lain yang timbul misalnya saja kasus korupsi yang melibatkan banyak pemimpin ataupun wakil rakyat juga membuat kepercayaan rakyat menjadi menurun. Meski belum terbukti, namun sewajarnya rakyat menjadi lebih berhati-hati dalam memilih pemimpin selanjutnya atau malah menjadi apatis, dalam arti tidak memilih sama sekali dan menjadi golput pada saat pemilihan. Diharapkan rakyat tetap menggunakan hak pilihnya baik pada pilkada ataupun pemilu mendatang, sehingga pilihan pemimpin Indonesia tetap berada di tangan rakyatnya sendiri. Mudah-mudahan saja. (nit, berbagai sumber) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
| Penegakan Hukum Ala Polres Ambon Di tengah Markas Besar (Mabes) Polri, berkampanye menyangkut pentingnya pelayanan masyarakat yang harus dilakukan “korps baju coklat” ini, berikut pemberantasan premanisme yang meresahkan warga dipelbagai... selengkapnya... |
| Pria Amerika hamil lagi selengkapnya... |
